Sabtu, 09 Mei 2009

Stop Kekerasan Di Sekolah!

Kekerasan bukan hal aneh atau luar biasa dalam kehidupan kita sehari-hari, hal itu hampir terjadi di setiap tempat baik di rumah, masyarakat, dan sekolah. Tidak terkecuali di kelas, kekerasanpun sering terjadi baik dalam bentuk fisik maupun psikis, salah satu aktornya adalah guru, banyak guru yang tidak tahu bahwa menjewer, mencubit, memukul, menampar, menendang, menggunduli rambut merupakan bentuk praktik kekerasan. Belum lagi bentuk kekerasan secara psikis yang kerap dilakukan seperti mengintimidasi, mengancam, menghina, merendahkah, menyindir, mendiskriminasikan, mengusir, memaki, mengabaikan, mengejek, menyamakan dengan binatang, dan sebagainya. Hukuman dalam bentuk kekerasan masih dianggap cara efektif untuk mendisiplinkan anak. Bentuk kekerasan seperti menjewer atau mencubit sudah hal yang lumrah bahkan siswa juga merasa bahwa hal seperti itu merupakan hal lazim untuk pendisiplinan.

Mendisiplinkan anak memang merupakan suatu bentuk sikap agar anak memiliki tanggung jawab, mandiri dan yang terpenting adalah mengakui hak dan keinginan orang lain serta memiliki tanggung jawab sosial secara manusiawi. Tetapi apa harus dilakukan dalam bentuk kekerasan? Kekerasan bukanlah solusi untuk mendisiplinkan atau membuat anak patuh dan taat kepada perintah guru, justru kekerasan akan mengakibatkan hal-hal yang akan berdampak bagi masa depan anak baik dari perkembangan, pertumbuhan dan keprabadiannya, menurut Sukadji (1988) pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama hukuman fisik akan menjadikan seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Kekerasan psikis yang nyata terjadi di sekolah seperti siswa tidak percaya diri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh guru karena takut salah, mereka menjadi seorang penakut dalam proses pembelajaran, kreatifitas mereka menjadi terhambat, tidak respect terhadap guru dan tidak semangat untuk pergi ke sekolah.

Untuk mendisiplinkan anak haruslah dilakukan secara berkelanjutan artinya disiplin harus ditanamkan sejak usia dini dan harus dilakukan secara konsisten dalam hal ini guru harus memberikan teladan yang baik, memotivasi dan memberikan batas-batas yang jelas mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dengan komunikasi yang dapat difahami dan disepakati bersama. Apabila pelanggaran terjadi maka sikap guru adalah menasehati dan memberikan pengertian kepada anak tentang perilaku yang dilanggarnya. Disatu sisi guru dapat memberikan sikap tegas tetapi bukan berarti harus dengan cara kekerasan berupa penyaluran emosi atau luapan kemarahan yang akan menyebabkan rasa sakit bagi yang dihukum. Hukuman disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak tentang hukuman tersebut, hukuman juga ditujukan kepada bentuk pertangungjawaban atas perbuatan yang dilanggarnya. Hukuman yang terlalu berat akan mengakibatkan anak memiliki rasa dendam, dan apabila ia tidak dapat membalaskan dendamnya maka akan terjadi pengalihan dalam bentuk kekerasan terhadap orang lain misalnya tawuran, sikap kasar, dan vandalisme. Guru tidak hanya memberikan hukuman kepada anak karena kesalahannya, tetapi harus memberikan hadiah atau pujian terhadap perilaku baik sekecil apapun, pujian bagi anak memiliki pengaruh besar terhadap jiwanya, pujian dapat menyentuh jiwa dan membuatnya segera mengoreksi perbuatannya dengan perasaan lega dan senang, Rasulullah saw. Sering memuji para sahabatnya ketika mereka berbuat kebaikan. Marilah kita ciptakan pendidikan yang mengantarkan manusia kearah yang lebih humanis.

1 komentar:

  1. kata''nya sangat luar biasa untuk memikirkan /ngposin ke blog kata'' perlu brapa hari mbak
    si mbak jgo jga ya membuat kt'' yang ada man fa'atnya/salam kenal aza mbak

    BalasHapus