Sabtu, 09 Mei 2009

Maraknya Kekerasan Dalam Pendidikan

Maraknya kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru dan sesama siswa yang terjadi dibelahan Indonesia baru-baru ini menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak, betapa tidak kekerasan itu sangat jelas ditayangkan di berbagai media elektronik dengan berbagai kasus dari mulai guru menghukum murid dengan smackdown-nya sampai para siswi berkelahi dengan setting arena pertandingan tinju yang ditonton oleh teman-temannya berikut guru sebagai wasitnya, juga tidak ketinggalan para siswi yang berjambak ria yang dijadikan tontonan menarik oleh teman-temannya juga orang-orang disekitarnya tanpa ada satupun orang yang memisahkan mereka.


Penulis merasa tergugah mengeluarkan sedikit pendapat mengenai sisi lain dari kekerasan dalam dunia pendidikan ini. Dalam kasus ini ada dua hal yang menjadi sorotan penulis yaitu pertama, kenapa para siswa/siswi itu bisa memiliki sikap agresif? kedua, apa sih kerjanya pendidikan dalam hal ini sekolah sebagai institusi yang harusnya dapat mencetak generasi ber-akhlakul karimah (berakhlak mulia) malah ber-akhlakul mazmumah (berakhlak tercela)?.


Berdasarkan penelitian UNICEF tahun 2002-2003 yang dilakukan di sejumlah provinsi di Indonensia terungkap bahwa perlakuan terhadap anak masih buruk dan membahayakan. Bahkan jumlah kekerasan yang terjadi terhadap anak dari tahun ke tahun semakin meningkat, menurut Komnas Pelindungan Anak, “sejak Januari sampai awal Agustus 2008 terdapat 1.200 kasus kekerasan terhadap anak. Tercatat 80% tindak kekerasan terhadap anak yang terjadi di keluarga, dilakukan oleh ibu kandungnya” (Pikiran Rakyat, Agustus 2008). Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat kekerasan pada anak di Indonesia sangat tinggi, coba kita perhatikan lingkungan sekitar atau mungkin dilingkungan kita sendiri, bentuk kekerasan seperti mengintimidasi, mengancam, menghina, merendahkan, menyindir, mendiskriminasikan, mengusir, memaki, mengabaikan, mengejek, menyamakan dengan binatang, membentak, memaki, menjewer, mencubit, memukul dan sebagainya sepertinya sudah menjadi pemandangan biasa dan lumrah adanya, padahal sadar tidak sadar kita sudah melakukan kekerasan fikis atau psikis pada diri anak yang akan berdampak negatif, efek dari kekerasan tersebut dapat menyebabkan anak memiliki sikap agresif dan mudah frustasi, tidak jarang kita melihat anak yang sedikit tersinggung oleh temannya langsung memukulnya, atau merusak barang-barang yang ada disekitarnya untuk melampiaskan emosinya, dan pada umumnya anak-anak korban kekerasan menjadi sakit hati, pendendam dan dapat memiliki perilaku menyimpang dikemudian hari. Psikolog, Dorothy Law Nolte, berkata: “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” Jadi apabila orang tua tidak bisa mengungkapkan kasih sayang kepada anaknya maka anak itu tidak akan mampu memberikan kasih sayang pada orang lain.


Berbicara mengenai kegagalan dalam membentuk seseorang berakhlul karimah tidak adil rasanya apabila kita men-jurge bahwa pendidikanlah yang bersalah terutama guru sebagai aktor penting didalamnya, karena ternyata banyak faktor yang mempengaruhi seseorang berperilaku buruk (termasuk sikap agresif siswa), faktor itu diantaranya karena keluarga, masyarakat, teman sebaya, teknologi (media) dan faktor dari dalam diri anak sendiri. Disini penulis hanya ingin menekankan pada para pendidik yang selama ini menerapkan cara mendidik dengan kekerasan menuju paradigma mendidik dengan kasih sayang; mendisiplinkan anak dengan kekerasan bukanlah sebuah solusi, menghukum anak dengan cara kekerasan juga bukan sebuah solusi, justru kekerasan akan mengakibatkan hal-hal yang akan berdampak bagi masa depan anak baik perkembangan, pertumbuhan dan kepribadiannya. Seharusnya kita belajar dari cara Rasulullah SAW mendidik kepada umatnya, “Beliau menyampaikan materi pada shahabatnya dengan kata yang lembut, kasih sayang, tawadlu’, hubungan persaudaraan...” (Dr. M. ‘Ajaj al-Khatib, Ushūl al-Hadīts, hlm. 59).

1 komentar: