Banyak orang beranggapan menjadi guru sangatlah gampang, mudah dan “enak”, tidak jarang ketika sebagian orang sulit mencari pekerjaan yang menjadi alternatif terakhir adalah menjadi guru, hal tersebut memberi kesan bahwa profesi guru sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun, yang lebih mengherankan lagi tatkala profesi guru mendapat perhatian dari pemerintah salah satunya dengan menaikkan gaji dan kesejahteraan lainnya orang-orang mulai tertarik dengan profesi ini. Memang tidak bisa dipungkiri orang bekerja tujuannya adalah mendapatkan uang begitu juga orang memilih profesi guru salah satu tujuannya tentu saja supaya mendapatkan uang, hal tersebut tidaklah salah, tapi harus diingat apabila orang memilih profesi ini hanya untuk uang semata itu salah besar dan penulis sarankan janganlah memilih profesi guru.
Kedudukan guru khususnya dalam Islam sangatlah agung dan mulia, Tafsir (2007: 76) mengungkapkan bahwa “begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah nabi dan rasul.” Bahkan Al-Ghazali (2005: 62) dalam Filsafat Pendidikan Al-Ghazali mendefinisikan seorang guru sebagai “seseorang yang memberikan hal apapun yang bagus, positif, kreatif, atau bersifat membangun kepada manusia yang sangat menginginkan didalam tingkat kehidupannya yang manapun, dengan jalan apapun, dengan cara apapun, tanpa mengharapkan balasan uang kontan setimpal apapun.” Oleh karena itu orang-orang yang menjadi guru bukanlah orang-orang sembarangan apalagi “asal orang”, sering kita mendengar pemberitaan ada guru yang mencabuli murid-muridnya, guru yang menyiksa murid-muridnya atau guru yang kerjaannya ngerumpi dan mengumpat sesama teman kerjanya, guru yang datang ke sekolah hanya ketika pembagiaan gajinya saja atau tidak ketinggalan kepala sekolah yang melarikan dana BOS sekolahnya, itu salah satu gambaran para guru yang “asal orang”.
Untuk itu dibutuhkan pemimpin atau kepala sekolah yang dapat memilih calon gurunya dengan selektif dan tidak asal, bisa dibayangkan apabila gurunya asal maka hasilnya terlahirlah murid-murid yang asal atau “asal murid” yang tidak jauh memiliki sifat seperti para gurunya, untuk menjadi seorang guru dibutuhkan jiwa-jiwa yang “bersih” dan “suci”, setidaknya ada beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagaimana yang diungkapkan oleh Al-Abrasyi (Tafsir, 2007: 82) yaitu “zuhud: tidak mengutamakan materi, bersih tubuhnya, bersih jiwanya, tidak ria, tidak memendam rasa dengki dan iri hati, tidak menyenangi permusuhan, ikhlas dalam melaksanakan tugas, sesuai perbuatan dengan perkataan, tidak malu mengakui ketidaktahuan, bijaksana, tegas dalam perkataan dan perbuatan, rendah hati, lemah lembut, pemaaf, sabar, berkepribadiaan, tidak merasa rendah diri, bersifat kebapakan dan mengetahui karakter murid. Kemungkinan besar sulit mencari guru sempurna yang dapat memenuhi kriteria yang diungkapkan oleh Al-Abrasyi tersebut, tapi setidaknya dari 19 sifat itu mungkin tiga atau lebih seorang guru dapat memilikinya. Selain itu dibutuhkan guru-guru yang siap secara psikis dan sehat jiwanya salah satunya dengan memberikan uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi murid-muridnya.
Apabila profesi guru terimbas oleh materialisme dan kepragmatisan jaman maka kedudukan guru akan tergeser dan menjadi rendah; guru mengajar karena uang niatnya saja sudah jauh dengan makna ajaran Islam apalagi apabila sesuatu diukur dengan uang mau dikemanakan lembaga pendidikan ini. Terkadang penulis bertanya-tanya sendiri apakah saya sudah layak disebut guru selain punya ijazah secara legal? Apakah saya layak disebut guru apabila akhlak saya belum sempurna? Apakah saya layak disebut guru apabila masih terdapat niat jelek dalam hati saya? Ternyata tidak mudah menjadi seorang guru.
